otonan bali menurut tanggal lahir
Lalu10 Muharram jatuh pada tanggal berapa? Merangkum NU Online, penghitungan 10 Muharram berdasar pada jatuhnya tanggal 1 Muharram 1444 H, yaitu pada 30 Juli 2022 sehingga diketahui bahwa 10 Muharram jatuh pada tanggal 8 Agustus 2022. Hal ini juga menjelaskan bahwa puasa tasu'a yang dilaksanakan pada 9 Muharram jatuh pada 7 Agustus 2022.
Katanyepi bermakna bagi umat hindu Bali, yakni supaya bisa menahan hawa nafsu dan mengendalikan segala yang diinginkan. 6. Upacara Adat Otonan Upacara adat Bali selanjutnya yaitu otonan. Biasanya, upacara adat digunakan oleh masyarakat Bali yang lagi merayakan kelahiran. Upacara ini dilakukan setiap enam bulan sekali menurut penanggalan Bali.
BACAJUGA: Kemenag Minta Jemaah Haji Sultra Jangan Bawa Poster saat Ibadah. Uniknya, kloter 6 itu kembali ke Indonesia pada tanggal 6 Muharam 1444 Hijriah di bawah pendampingan enam petugas haji termasuk Petugas Haji Daerah (PHD). "Maka enam ini bukan suatu kebetulan, tapi adalah sebuah keberkahan," terangnya.
H5 Ffcredit. Bali memang unik dan menarik bagi semua orang, tidak hanva Bangsa sendiri tetapi juga Bangsa-bangsa di seluruh dunia membicarakan tentang "Bali". Salah satu keunikan yang sudah menjadi tradisi umat Hindu Bali dimanapun berada tidak pernah melupakan prihal; Otonan atau Ngotonin, yang merupakan peringatan hari kelahiran berdasarkan satu tahun wuku, yakni; 6 enam bulan kali 35 hari = 210 hari. Jatuhnya Otonan akan bertepatan sama persis dengan; Hari, Panca Wara, dan Wuku yang sama. Misalnya orang yang lahir pada hari Rabu, Keliwon Sinta, selalu otonannva akan diperingati pada hari yang sama persis seperti itu yang datangnya setiap enam bulan sekali 210 hari. Berbeda dengan peringatan hari Ulang Tahun yang hanya menggunakan perhitungan tanggal dan bulan saja dengan mengabaikan hari maupun wuku pada tanggal tersebut. Misalnya seseorang yang lahir tanggal 10 Januari, maka hari ulang tahunnya akan diperingati tiap-tiap tanggal 10 Januari pada tahun berikutnya 12 bulan kalender. Otonan diperingati sebagai hari kelahiran dengan melaksanakan upakara yadnya yang kecil biasanya dipimpin oleh orang yang dituakan dan bila upakaranya lebih besar dipuput oleh pemangku Pinandita. Sarana pokok sebagai upakara dalam otonan ini adalah; biyukawonan, tebasan lima, tumpeng lima, gebogan dan sesayut. Menurut tradisi umat Hindu di Bali, dalam mengantarkan doa-doa otonan sering mempergunakan doa yang diucapkan yang disebut sehe see yakni doa dalam bahasa Bali yang diucapkan oleh penganteb upacara otonan yang memiliki pengaruh psikologis terhadap yang melaksanakan otonan, karena bersamaan dengan doa juga dilakukan pemberian simbol-simbol sebagai telah menerima anugerah dari kekuatan doa tersebut. Sebagai contoh Melingkarkan gelang benang dipergelangan tangan si empunya Otonan, dengan pengantar doa "Ne cening magelang benang, apang ma uwat kawat ma balung besi" Ini kamu memakai gelang benang, supaya ber otot kawat dan bertulang besi. Ada dua makna yang dapat dipetik dari simbolis memakai gelang benang tersebut adalah pertama dilihar dari sifat bendanya dan kedua dari makna ucapannya. Dari sifat bendanya benang dapat dilihat sebagai berikut 1. Benang memiliki konotasi beneng dalam bahasa Bali berarti lurus, karena benang sering dipergunakan sebagai sepat membuat lurus sesuatu yang diukur. Agar hati selalu di jalan yang lurus/ Benang memiliki sifat lentur dan tidak mudah putus sebagai simbol kelenturan hati yang otonan dan tidak mudah patah semangat. Sedangkan dari ucapannya doa tersebut memiliki makna pengharapan agar menjadi kuat seperti memiliki kekuatannya baja atau besi. Disamping kuat dalam arti fisik seperti kuat tulang atau ototnya tetapi juga kuat tekadnya, kuat keyakinannya terhadap Tuhan dan kebenaran, kuat dalam menghadapi segala tantangan hidup sebab hidup ini bagaikan usaha menyebrangi samudra yang luas. Bermacam rintangan ada di dalamnya, tak terkecuali cobaan hebat yang sering dapat membuat orang putus asa karena kurang kuat hatinya. Dalam rangkaian upacara otonan berikutnya sebelum natab, didahului dengan memegang dulang tempat sesayut dan memutar sesayut tersebut tiga kali ke arah pra sawia searah jarum jam dengan doa dalam bahasa Bali sebagai berikut "Ne cening ngilehang sampan, ngilehang perahu, batu mokocok, tungked bungbungan, teked dipasisi napetang perahu bencah" Ini kamu memutar sampan, memutar perahu, batu makocok, tongkat bungbung, sampai di pantai menemui kapal terdampar.Dari doa tersebut dapat dilihat makna 1. "Ngilehang sampan ngilehang perahu" bahwa hidup ini bagaikan diatas perahu yang setiap hari harus kesana-kemari mencari sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidup ini. Badan kasar ini adalah bagaikan perahu yang selalu diarahkan sesuai dengan keinginan sang diri yang menghidupi kita. 2. "Batu makocok" adalah sebuah alat judi. Kita teringat dengan kisah pandawa dan Korawa yang bermain dadu, yang dimenangkan oleh Korawa akibat kelicikan Sakuni. Jadi hidup ini bagaikan sebuah perjudian dan dengan tekad dan keyakinan yang kuat harus dimenangkan. 3. "Tungked bungbungan" tongkat berlobang adalah bambu yang dipakai kantihan yakni sebagai penyangga keseimbangan samping perahu agar tidak mudah tenggelam karena bambu bila masih utuh memang selalu terapung. "Perahy hidup ini" jangan mudah tenggel. oleh keadaan, kita harus selalu dapat mengatasinya sehingga dapat berumur panjang sampai memper-gunakan tongkat usia tua. 4. "Teked dipasisi napetang perahu bencah" sampai di pantai menemui perahu/ kapal terdampar. Terinspirasi dari sistem hukum tawan karang yang ada pada jaman dahulu di Bali, yakni setiap ada kapal atau perahu yang terdampar di pantai di Bali, rakyat Bali dapat dengan bebas menahan dan merampas barang yang ada pada kapal yang terdampar tersebut. Maksudnya supaya mendapatkan rejeki nomplok, atau dengan usaha yang mudah bisa mendapatkan rejeki yang banyak. Demikian luhurnya makna doa yang diucapkan dalam sebuah upacara otonan bagi masyarakat Hindu Bali yang dikemas dengan simbolis yang dapat dimaknai secara fisik maupun psikologis, dengan harapan agar putra-putri yang menjadi tumpuan harapan keluarga mendapatkan kekuatan dan kemudahan dalam mengarungi kehidupan. Source I Wayan Ritiaksa, l Warta Hindu Dharma NO. 488 Agustus 2007
Otonan or Ngotonin is a ceremony commemorating the birthday of one year based on Wuku, 6 six months times 35 days = 210 days. The fall day of Otonan will coincide with Sapta Wara, Panca Wara, and Wuku. Otonan ceremonial purposes is to give thanks to Hyang Widhi for the gift of longevity, as well as please the safety and welfare. Different with the birthday anniversary of using only the calculation of the date and month. Otonan conducted every 6 months 210 days once by using the calendar calculations of bali, 1 month = 35 days. Otonan ceremony always accompanied in prayer, along with giving a string bracelet to someone who was conducting the otonan ceremony. Prayer has the meaning of hope to be physically strong, strong in determination, strong in belief in God and truth, and strong in facing all challenges of life. Symbolic meaning of the bracelet thread Yarn in Bali was “beneng” means straight, and also because the threads are often used to sew something and become straight. The point is that the heart is always on the straight and true. Yarn has a flexible nature and not easily broken as a symbol of resiliency of the heart and not easily discouraged. While the prayer can be seen meaning That life is like on a boat, that every day we must go to work to meet the needs of this life. Life is like a game of chance that with determination and strong convictions must be won. So that “life boat” do not easily drowned out by the circumstances, we must always be able to cope so that they can live a long life until old age. That only with effort and work that easily could get a lot of good fortune. Gusti Bali A Local Private Tour Organizer offers special Bali Tour packages with flexible time arrangements, also offers Bali Transport Service with driver and Special Discount Rate for your holidays in the Paradise Island of Bali. 380 posts Wayang Kulit, or Shadow Puppets as they are more commonly known as in English, are part of an ancient heritage of Pre-Hindu […] Located Celuk village is located in main road five km East of Denpasar Celuk Village is the right destination for gold […] Ubud Tanah Lot Tour is a Bali Full Day Tour package to enjoy visiting Balinese traditional art shop such as Tohpati […] Reputed to be the sister of Buyan Lake, Tamblingan Lake in Bali is the smallest lake of the island and a perfect […]
otonan bali menurut tanggal lahir